Aku mempunyai seorang adik yang masih berumur lima tahun. Namanya Nudha. Orang tua kami bekerja sebagai penjual bunga hias di rumah. Berbagai macam bunga tersedia di took bunga yang berada di samping rumah kami. Mulai dari yang kecil sampai yang besar, yang murah atau yang mahal semuanya ada di took bunga kami.
Suatu hari, Ayah pulang dengan membawa bunga matahari dalam jumlah yang banyak. Adikku yang tidak pernah melihat bunga matahari sebelumnya, bertanya padaku:
“Kak, itu bunga apa?”
“Itu namanya bunga matahari,” jawabku.
“Oo…….,” Hanya kata Ooo saja yang keluar dari mulut adikku yang mungil itu.
Sudah seminggu pula hujan turun dengan deras dan hamper setiap hari cuaca terlihat mendung.
Esok hari sudah hari senin, sedangkan seragam biru putihku masih setengah basah. Aku bingung, harus diapakan lagi supaya itu kering.
Malamnya, pukul setengah tujuh, Aku berusaha mengeringkan seragamku dengan bantuan kipas angin sambil mengomel-ngomel,”Aduh belum kering juga. Kenapa sih matahari gak terbit- terbit? Pelit amat, nongol setengah jam kek! Biar seragamku kering, bla….bla….bla…,” Dan seterusnya, aku terus ngomel-ngomel.
Tanpa aku sadari, adikku yang sedari tadi ada di sampingku kini sudah tidak ada di tempatnya lagi. Kukira dia sudah pergi tidur, Karena itu aku pergi ke dapur untuk membuat mie instant dan segelas the hangat.
Setelah selesai aku kembali keruang tamu, di mana aku meninggalkan seragamkudi depan kipas angin yang menyala. Saat memasuki ruang tamu, hamper saja aku menjatuhkan mangkok mie dan tehku kelantai serta hamper saja aku mati kena serangan jantung. Di hadapanku sudah tidak seperti ruang tamu lagi, Tapi sudah berubah menjadi tempat kapal pecah. Lumpur di mana-mana, mengotori lantai putih yang sebelumnya putih mengkilap. Dan yang lebih mengejutkan lagiadikku di sana, Di dekat bunga- bunga matahari yang tergeletak di lantai, Sedang menyeret seragam biru putihku ke arah tumpukan bunga. Oh….. rasanya aku ingin pingsan.
“ Nudha, kamu….. ap yang kamu lakukan?” tanyaku tak percaya.
“ Kata kakak, kenapa matahari gak terbit- terbit buat ngeringin baju kakak. Makanya itu, Nudha naruh seragam kakak di bunga matahari, biar cepet kering !”
BLUCHN! Akhirnya aku pingsan juga.
Suatu hari, Ayah pulang dengan membawa bunga matahari dalam jumlah yang banyak. Adikku yang tidak pernah melihat bunga matahari sebelumnya, bertanya padaku:
“Kak, itu bunga apa?”
“Itu namanya bunga matahari,” jawabku.
“Oo…….,” Hanya kata Ooo saja yang keluar dari mulut adikku yang mungil itu.
Sudah seminggu pula hujan turun dengan deras dan hamper setiap hari cuaca terlihat mendung.
Esok hari sudah hari senin, sedangkan seragam biru putihku masih setengah basah. Aku bingung, harus diapakan lagi supaya itu kering.
Malamnya, pukul setengah tujuh, Aku berusaha mengeringkan seragamku dengan bantuan kipas angin sambil mengomel-ngomel,”Aduh belum kering juga. Kenapa sih matahari gak terbit- terbit? Pelit amat, nongol setengah jam kek! Biar seragamku kering, bla….bla….bla…,” Dan seterusnya, aku terus ngomel-ngomel.
Tanpa aku sadari, adikku yang sedari tadi ada di sampingku kini sudah tidak ada di tempatnya lagi. Kukira dia sudah pergi tidur, Karena itu aku pergi ke dapur untuk membuat mie instant dan segelas the hangat.
Setelah selesai aku kembali keruang tamu, di mana aku meninggalkan seragamkudi depan kipas angin yang menyala. Saat memasuki ruang tamu, hamper saja aku menjatuhkan mangkok mie dan tehku kelantai serta hamper saja aku mati kena serangan jantung. Di hadapanku sudah tidak seperti ruang tamu lagi, Tapi sudah berubah menjadi tempat kapal pecah. Lumpur di mana-mana, mengotori lantai putih yang sebelumnya putih mengkilap. Dan yang lebih mengejutkan lagiadikku di sana, Di dekat bunga- bunga matahari yang tergeletak di lantai, Sedang menyeret seragam biru putihku ke arah tumpukan bunga. Oh….. rasanya aku ingin pingsan.
“ Nudha, kamu….. ap yang kamu lakukan?” tanyaku tak percaya.
“ Kata kakak, kenapa matahari gak terbit- terbit buat ngeringin baju kakak. Makanya itu, Nudha naruh seragam kakak di bunga matahari, biar cepet kering !”
BLUCHN! Akhirnya aku pingsan juga.

Posting Komentar